hari ini
tadi pagi
saat fajar
dari jatinangor
reminder from Allah...
jelajah git.. blog ini berisi apapun yang ingin saya tulis, cerita, tentang hobi perjalanan dan petualangan saya...tempat yang pernah saya datangi, tempat yang ingin saya datangi...apapun yang ingin saya jelajahi..
Rabu, 15 Februari 2012
Jumat, 13 Januari 2012
fourth step to situ lembang
My fourth step...
Kenapa empat, karena saat ketiga kalinya saya ke tempat ini adalah bersama 3 orang saudara Caldera dengan menggunakan motor. Hanya sekitar 2 jam untuk makan dan niat mengambil foto survival food di Situ Lembang. Dan akhirnya hanya tersisa memori makan siang mie bersama angsa di tepi danau itu.
![]() |
| Qq (Rizky A.) dan Ian (Ramadhian F.) |
Menapaki tanah situ lembang untuk keempat kalinya bersama dua orang sahabat fotografer. Saya berperan sebagai "guide" untuk salah seorang sahabat yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya yaitu memotret titik-titik kawasan tertentu yang membentuk formasi Bandung Purba, dimana salah satu titik kawasannya adalah Situ Lembang. Hari itu tanggal 22 Desember 2007, kulihat lewat properties file foto-foto.
Perjalanan diawali dengan cuaca yang cukup mendung sejak berkumpul di terminal Ledeng. Terbesit pikiran iseng untuk membeli kembang api di toko seberang terminal, tapi ternyata melihat harganya yang cukup menguras saku, akhirnya niat itu terurungkan begitu saja dan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Parongpong dengan angkutan desa. Setibanya di kawasan Vila Istana Bunga Parongpong, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga Situ Lembang yang jaraknya mungkin sekitar 5 Km atau lebih. Setidaknya untuk mencapai Situ Lembang dari Parongpong memakan waktu lebih dari 2 jam, dengan rute yang agak menanjak, melewati kebun penduduk dan jalan raya yang panjang dan berkelak-kelok. Di tengah jalan, cuaca yang mulai tidak bersahabat mengguyur jalan kebun yang kami lewati ditambah dengan kabut yang sesekali turun membawa hawa dingin.
Kami tiba di tepi Situ Lembang dalam keadaan basah kuyup dan menjelang maghrib, lebih tepatnya saat maghrib. Untunglah saaat tiba hujan dan kabut sudah reda, sehingga saat malam tiba, bayangan bulan yang terang terlihat sangat indah di permukaan air Situ Lembang.
Setelah memasang fly sheet di samping mushola, kami mengganti pakaian, makan secukupnya dan akhirnya menghangatkan diri dibalik sleeping bag masing-masing dengan beratapkan langit.

Esok paginya, secangkir coklat panas dan mie rebus menemani cerahnya bayangan dinding Sunda Purba terefleksikan di permukaan air danau yang tenang. Sementara angsa penghuni tetap danau itu damai berenang, mengambang seolah tak terusik oleh manusia dan binatang lainnya. Setelah membereskan peralatan dan mendokumentasikan sekitar camp, kami memutar danau memasuki hutan primer untuk menuju titik tertinggi dimana Situ Lembang bisa terlihat jelas dari atas. Salah seorang sahabat saya hanya menunggu di bawah bersama barang-barang camp, sementara saya menemani sahabat yang hendak memotret. Hanya berbekal 2 botol air minum dan tentunya kamera, di sebuah puncakan Sunda Purba terlihat jelas pemandangan Situ Lembang. Sayangnya salah satu botol yang dibawa sahabat saya terjatuh di tengah perjalanan.
Perjalanan turun dari puncakan itu diwarnai hujan agak deras sehingga kami sempat tersasar. Untungnya saya teringat bahwa di sisi kiri turun kami seharusnya terlihat Situ Lembang, sedangkan saat itu hanya terlihat punggungan lain dari Sunda Purba. Yakin bahwa jalan setapak yang seharusnya kami tuju terlewat, akhirnya terpaksa kami berbalik arah dan menanjak. Ketika mulai reda, saya sadari pula bahwa di tepian jalan yang menanjak itu terdapat banyak tumbuhan kantung semar. Seperti "charger" yang membuat "batere" saya semangat, dengan waktu yang sempit, saya ambil beberapa jepret foto tumbuhan yang selalu membuat saya tertarik dan penasaran.Saat menemukan kembali titik kami tersasar, botol minum yang terjatuh kami temukan kembali sambil kami beristirahat. ![]() |
Setelah selesai memotret, kami bergegas menemui sahabat kami yang menunggu dan segera bersiap untuk pulang. Di sebuah gerbang berpapan nama komando kedua sahabat saya berfoto, walaupun ternyata cuaca mulai tidak bersahabat kembali agak gerimis.
![]() |
Cukup puas membawa sahabat saya ke tempat itu, menunjukkan hal baru dan bertualang bersama. Saat pulang kami kembali menyusuri jalan raya sempit yang berkelok-kelok dalam rintik hujan. Walaupun perut terasa lapar dan tubuh lelah, tapi kami harus mengejar sore agar tidak larut malam.
![]() |
| Saya, tas selendang dan carier petuangan saya di tepi Situ Lembang. (dok : Rizky A.) |
Kamis, 12 Januari 2012
second step to situ lembang
second step to situ lembang...menelusuri rute yang hampir sama dengan first step tapi bedanya saya tidak menapakkan kaki di burangrang...
perjalanan sangat santai dengan cuaca yang cukup cerah, sampai akhirnya kami tiba di situ lembang dan di sana kami bertemu pihak militer yang meminta kami bergegas keluar dari area tersebut. area situ lembang merupakan kawasan latihan militer, oleh karena itu saat ini untuk masuk kawasan tersebut membutuhkan surat izin dari pihak militer.

saat saya dan saudara-saudara saya berada di sana, aturan memasuki situ lembang belum tegas, tapi sewaktu-waktu secara mendadak pihak militer menggunakan kawasan itu, maka siapapun "sipil" yang ada di dalamnya harus terusir. karena biasanya kawasan itu dijadikan arena untuk latihan menembak sehingga sangat berbahaya bila ada peluru nyasar dan mengenai "sipil".
saat itu kami berjumlah 9 orang, 2 laki-laki dan 7 perempuan, dengan membawa tenda besar kapasitas pas 10 orang. di dalamnya bahkan kami bisa sholat sambil berdiri.peralatan masak dan penerangan juga perlengkapan yang wajib untuk dibawa. kami membuka lapak camp untuk istirahat di sebuah punggungan yang ternyata hampir mendekati puncak "tower" Tangkuban Perahu. di tempat itu kami berbagi lapak bersama pendaki lain yang berasal dari kuningan. sepanjang malam mereka tampak berceloteh dan bernyanyi-nyanyi memecah keheningan hutan di tanah Priangan. kami pun hanya berdiam diri di dalam tenda, mengingat 5 orang perempuan yang kami ajak adalah calon siswa Caldera, yang notabene-nya setidaknya harus kami jaga.
esok pagi harinya rombongan kuningan bergegas sangat pagi, sementara kami masih bersantai memasak dan sarapan pagi. setelah selesai berkemas kami bergegas pergi menuju jalur pulang lewat Tangkuban Perahu. sudah agak siang ketika kami tiba di bibir kawah, cuaca cukup bersahabat untuk kami menjepretkan kamera analog yang selalu saya bawa kemana saya pergi. berbekal rol film kamera tak kurang dari 3 rol, ternyata masih sangat kurang dan akhirnya kami harus cukup puas dengan dokumentasi seadanya. setelah puas berfoto ria, kami langsung bergegas pulang.
Rabu, 11 Januari 2012
fist step to situ lembang
first step to situ lembang..
sudah lama nama tempat itu saya dengar, tapi belum pernah saya datangi. setidaknya sebelum seorang kawan satu jurusan kuliah mengajak saya ke sana. tujuan awal kami adalah survei jalur untuk sebuah acara "rihlah", janjian bersama kawan-kawan lain di terminal lembang sekitar pukul 8 pagi, hingga akhirnya semua membatalkan janji karena berhalangan untuk survei dan akhirnya hanya saya berdua dengan seorang kawan yang juga "petualang". hampir tidak jadi, tapi akhirnya kami teruskan. menuju "lawang angin", sebuah gerbang tak berpagar yang membatasi kawasan situ lembang dengan area perkebunan masyarakat, juga terdapat jalur menuju gunung Burangrang. mencoba mencari jalur tembus menuju situ lembang dari jalan setapak yang mengarah ke Burangrang, sampai akhirnya terjebak dalam jalur pemburu yang rimbun dan terjal. dengan persiapan yang kurang baik beralaskan sandal gunung, kaki sangat tidak aman dari semak dan patahan ranting di permukaan tanah. walaupun akhirnya kami memaksa menerobos semak menuju ke arah situ lembang.
tak banyak yang bisa saya abadikan dengan kamera karena sibuk menemukan jalur untuk ditembus. pada akhirnya di jalur burangrang itu hanya sempat saya jepretkan kamera pada sebuah jamur tanah yang berbentuk seperti bintang dan berwarna coklat.
keluar dari rimbunan semak akhirnya kami menemukan kebun penduduk yanng ternyata berada di tepi jalan menuju situ lembang. cukup lama kami berjalan, rintik air turun bersama kabut yang mulai mengaburkan pandangan, tidak lebih dari 10 meter. terlanjur untuk memutuskan berhenti di tengah jalan yang bahkan mungkin hampir sampai. di sebuah jembatan kecil yang membelah sebuah sungai, kami istirahat sejenak dan bersembahyang.
kembali menyusuri jalanan yang cukup untuk sebuah tronton militer, tak berlangsung lama ternyata kami tiba di tepi danau yang hendak kami tuju, "situ lembang". sayang sekali saat itu kabut begitu tebal sehingga tak bisa terlihat pemandangan danau yang dikelilingi gunung Tangkuban Perahu dan dinding Gunung Sunda Purba. beruntung kami bertemu dengan kelompok pencinta alam yang sedang "pendidikan Dasar" di sekitar kawasan itu, mereka menunjukkan jalan tembus ke puncak Tangkuban Perahu. padahal saat itu waktu sudah pukul 3 sore, dan menurut mereka perjalanan akam memakan waktu lebih dari 2 jam. ditemani rintik hujan dan kabut, tanpa persiapan camp dan logistik makanan, kami terus berjalan dengan sekali-kali istirahat untuk menjepretkan kamera sebagai sebuah dokumentasi perjalanan dan dokumentasi pribadi alias narsis.akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju puncak dan ternyata mampu kami tempuh dengan hanya 1,5 jam. di tangkuban perahu, untunglah cuaca mulai bersahabat sehingga perjalanan menuju lembang walaupun menjelang maghrib tidak terasa "menyeramkan". tepat adzan maghrib, kami tiba di pasar lembang dan langsung saja kami buru semangkuk bakso gepeng dan segelas teh manis.
Rabu, 07 Desember 2011
napak tilas to Ciijambu
Senin, 5 Desember 2011.
10. .... wib..Perjalanan dimulai dari sekretariat tercinta KPPA Caldera FMIPA Unpad bersama dengan 2 saudaraku ucay dan fardhan. Setengah hati dan setengah memaksa, tidak tega mengingat kondisi keduanya tampak masih sangat lelah setelah berkegiatan "ospek" himpunan di Gn. Kareumbi..Tapi waktu yang saya punya hanya hari itu, untuk menunjukkan "keindahan Allah" di hutan Cijambu.
Hampir 1 jam waktu tempuh Jatinangor sampai Desa Cijambu karena tersendat kemacetan di pasar Tanjung Sari. Pukul 11.40 saat Dzuhur, perjalanan menuju hutan Desa Cijambu dimulai dengan menyusuri hutan Pinus. Beberapa punggungan tersisir dan beberapa tanjakan terlewati. Langkah terasa ringan dengan beban daypack berisi raincoat, kamera pocket, ponsel, sedikit cemilan dan segelas 250 ml air minum.
Lebih dari 1 jam menapaki jalan setapak di hutan pinus dan sesekali waktu kami dipertemukan oleh rimbunan semak tumbuhan Arbei Hutan, Harendong Bulu dan Saliara yang tengah berbuah matang sehingga menggoda untuk disantap.Memang sedikit, tetapi cukup mengobati rasa lelah yang mulai singgah di tengah perjalanan yang semakin menanjak.
Menuju aliran sungai Cijambu kami disuguhi hamparan padang rumput gajah yang terbuka dan menghadap megah-nya Gunung Kadaka. Saat itu langit mulai mendung, agak berkabut dan agak menitikkan hujan. Sedikit cemas memutuskan untuk meneruskan perjalanan atau kembali pulang, tapi akhirnya perjalanan berlanjut.


Tanjakan terakhir di hutan pinus mengantar kami menuju punggungan Cijambu yang mengantar kami ke gerbang hutan primer Cijambu.
Heterogenitas vegetasi dan samar-samar terdengar suara derasnya sungai mengingatkan kembali euforia di tempat yang kami tuju. Harendong pohon menjadi suguhan yang menggelitik jari untuk membidikkan kamera pocket digital milik ayah yang selalu saya bawa.
Menyusuri lembahan dan punggungan lewat jalan setapak yang labil dengan lebar tidak lebih dari 0,5 m, tiba- tiba saja sebuah pohon besar menghadang menghalangi jalan setapak menuju pos yang kami tuju. Sempat putus harapan bahwa perjalanan akan terhenti, padahal tidak lebih dari 15 menit lagi kami akan sampai di titik akhir tujuan. Tetapi ternyata pohon besar itu dapat dilewati, batangnya yang kokoh mampu menahan beban tubuh kami ketika berpijak melewatinya.

Akhirnya deras sungai dan rimbunnya vegetasi Cijambu bisa saya capai kembali. setelah berjalan selama 2,5 jam. Tempat itu tampak jarang terjamah, terselubung dalam belantara hutan hujan topis dimana semak dan herba tumbuh meraup kemerdekaannya tanpa gangguan dan duri-duri rotan utuh tak terjamah golok penebas penjelajah hutan. Tumbuhan yang masih asing kulihat dan jamur-jamur liar tumbuh subur di kayu-kayu mati. Terasa damai dan misterius bersama iringan rintik hujan dan arus sungai. Tanah datar bekas lapak-lapak camp tampak rimbun oleh tumbuhan yang bisa dipakai sebagai bahan makanan survival. Langit pun tampak ternaungi kanopi vegetasi yang tak sudah lama tidak kami jamah.

Saat rintik hujan mulai berontak, fly sheet hijau meneduhi tubuh kami yang mulai kedinginan sambil menunggu mie rasa empal gentong matang ditemani segelas kopi mochacino dan beberapa jepret foto. Tak hanya hujan yang menemani, ternyata tanpa kami sadari pacet-pacet pun ikut berlabuh di kaki dan mengisap darah dengan melubangi pori-pori kulit. Tampak beberapa pacet berukuran lumayan panjang menggeliat-geliat mencari celah untuk mengisap darah di permukaan kulit. Dengan ukuran yang cukup panjang itu, tak heran tubuh pacet yang sudah "kenyang" bisa menggembung pipih hingga lebar sekitar 0,5 cm dan panjang sekitar 1 cm.
Hampir satu jam, setelah makan siang dan sedikit menyusuri "titik-titik camp" di tempat ini, akhirnya kami putuskan untuk pulang mengejar senja di desa Cijambu. Lebih cepat, selisih hampir satu jam dari lama waktu perjalanan pergi. Tiba di desa, tanah dan jalanan tampak agak basah, tidak seperti pakaian kami yang basah kuyub. Sedikit cemilan di warung dekat tempat parkir katana biru "keluarga" ku dan beberapa penduduk yang menatapi kami suguhan akhir hari itu di desa Cijambu. Akhirnya, senja menemani perjalanan pulang dari desa Cijambu menuju Jatinangor.
atau juga beberapa vegetasi yang sebelummnya belum pernah kutemukan setidaknya belum pernah kutemui sepanjang beberapa kali saya pulang pergi ke cijambu, sebut saja beragam arbei hutan, harendong bulu dan harendong pohon. juga hamparan "survival food" yang disebut Curculigo, tampak tumbuh subur dan aman di tempat itu..sekilas euforia unggun menyala dalam benak di keheningan hutan. ada juga tmbuhan pacing yang bisa dijadikan "obat" gigitan pacet. sekali-kali di tepi jalan setapak dapat mudah ditemukan antanan gunung untuk sekedar lalapan.
Heterogenitas vegetasi dan samar-samar terdengar suara derasnya sungai mengingatkan kembali euforia di tempat yang kami tuju. Harendong pohon menjadi suguhan yang menggelitik jari untuk membidikkan kamera pocket digital milik ayah yang selalu saya bawa.
Menyusuri lembahan dan punggungan lewat jalan setapak yang labil dengan lebar tidak lebih dari 0,5 m, tiba- tiba saja sebuah pohon besar menghadang menghalangi jalan setapak menuju pos yang kami tuju. Sempat putus harapan bahwa perjalanan akan terhenti, padahal tidak lebih dari 15 menit lagi kami akan sampai di titik akhir tujuan. Tetapi ternyata pohon besar itu dapat dilewati, batangnya yang kokoh mampu menahan beban tubuh kami ketika berpijak melewatinya.

Akhirnya deras sungai dan rimbunnya vegetasi Cijambu bisa saya capai kembali. setelah berjalan selama 2,5 jam. Tempat itu tampak jarang terjamah, terselubung dalam belantara hutan hujan topis dimana semak dan herba tumbuh meraup kemerdekaannya tanpa gangguan dan duri-duri rotan utuh tak terjamah golok penebas penjelajah hutan. Tumbuhan yang masih asing kulihat dan jamur-jamur liar tumbuh subur di kayu-kayu mati. Terasa damai dan misterius bersama iringan rintik hujan dan arus sungai. Tanah datar bekas lapak-lapak camp tampak rimbun oleh tumbuhan yang bisa dipakai sebagai bahan makanan survival. Langit pun tampak ternaungi kanopi vegetasi yang tak sudah lama tidak kami jamah.Saat rintik hujan mulai berontak, fly sheet hijau meneduhi tubuh kami yang mulai kedinginan sambil menunggu mie rasa empal gentong matang ditemani segelas kopi mochacino dan beberapa jepret foto. Tak hanya hujan yang menemani, ternyata tanpa kami sadari pacet-pacet pun ikut berlabuh di kaki dan mengisap darah dengan melubangi pori-pori kulit. Tampak beberapa pacet berukuran lumayan panjang menggeliat-geliat mencari celah untuk mengisap darah di permukaan kulit. Dengan ukuran yang cukup panjang itu, tak heran tubuh pacet yang sudah "kenyang" bisa menggembung pipih hingga lebar sekitar 0,5 cm dan panjang sekitar 1 cm.
Hampir satu jam, setelah makan siang dan sedikit menyusuri "titik-titik camp" di tempat ini, akhirnya kami putuskan untuk pulang mengejar senja di desa Cijambu. Lebih cepat, selisih hampir satu jam dari lama waktu perjalanan pergi. Tiba di desa, tanah dan jalanan tampak agak basah, tidak seperti pakaian kami yang basah kuyub. Sedikit cemilan di warung dekat tempat parkir katana biru "keluarga" ku dan beberapa penduduk yang menatapi kami suguhan akhir hari itu di desa Cijambu. Akhirnya, senja menemani perjalanan pulang dari desa Cijambu menuju Jatinangor.
selalu ada hal baru yang kutemukan di setiap tempat yang kudatangai berulang kali..tak pernah sama....
walalupun jalan setapak, jarak, vegetasi dominan, gunung itu semua itu sama..tetap saja Allah memberikan hal-hal baru yang selalu membuatku takjub. sebut saja kutemukan jalur lain menuju titik awal pendakian cijambu, jalan memipir atau teman-teman biasa menyebut "menjahit punggungan", yang ternyata terasa santai namun agak panjang...atau gubug tua yang dulu ada sekarang bahkan tidak tampak bekas puing-puingnya..semua itu terekam jelas di kepalaku..tak bisa kuungkap..atau juga beberapa vegetasi yang sebelummnya belum pernah kutemukan setidaknya belum pernah kutemui sepanjang beberapa kali saya pulang pergi ke cijambu, sebut saja beragam arbei hutan, harendong bulu dan harendong pohon. juga hamparan "survival food" yang disebut Curculigo, tampak tumbuh subur dan aman di tempat itu..sekilas euforia unggun menyala dalam benak di keheningan hutan. ada juga tmbuhan pacing yang bisa dijadikan "obat" gigitan pacet. sekali-kali di tepi jalan setapak dapat mudah ditemukan antanan gunung untuk sekedar lalapan.
![]() |
![]() |
Kamis, 03 November 2011
my first purposes : reached Merbabu
2002...Perjalanan pertama atas pendakian..
bukan yang kuharapkan tapi atas dasar ajakan dan keharusan..
perjalanan yang belum sepenuhnya kuinginkan besama tim Merbabu.
Menuju Merbabu, Jawa Tengah...tepatnya puncak gunung Merbabu.
Berbekal kamera pocket sederhana dari plastik dan harus dikokang manual, seharga Rp.5000 yang dibelikan oleh bapa saya sewaktu ada ajang Braga Festival (jaman SMA antara 1998-2001, sudah terlalu lama)..
Berangkat bersama tim Lawu dari stasiun Kiaracondong sekitar pukul 22 WIB dan tiba di Solo sekitar pukul 7 esok harinya...dan di stasiun Jebres kami berpisah..
menuju start awal pendakian di Kopeng
sudah terlalu siang bahkan terlalu sore saat kami memulai pendakian setelah masak dan makan siang.
sampai akhirnya kami tersesat dan kemudian bermalam di tengah-tengah perjalanan.
esok harinya...
sarapan pagi dengan bubur kacang hijau yang masih keras karena pengolahan yang salah..
pagi yang cerah mengiringi perjalanan, mungkin sedikit mengeluh..hari itu terlalu cerah..
saya belum pernah melakukan pendakian, apalagi dengan kondisi air yang sangat terbatas. beban tas yang berat dan terik surya yang menggoda untuk melepas dahaga dengan tegukan air dari botol minum.
tujuan kami adalah menuju ke atas, berharap menemukan puncakan agar mdah mengetahui keberadaan kami.
sampailah kami di puncakan yang ternyata merupakan shelter ke-4, Heli pad...
tampak megah barisan puncakan Merbabu di belakang latar Jembatan Setan, yang memukau kami dengan pandangan luas tak berbatas tak terhalang ...langsung, panas menerpa karena vegetasi tumbuhan semakin berkurang..dataran tinggi yang kering, menggambarkan karakteristik tipe gunung di kawasan Jawa Tengah.
makan siang dalam bivak ponco untuk menghalau terik surya, dan pasokan air yang semakin menipis memaksa kami mencari sumber air..ada sumber air..tapi mengandung belerang, sedikit berasa asam sampai-sampai teh manis berasa seperti lemon tea.
menjelang Ashar, setapak demi setapak menyusuri jalur Jembatan Setan..satu-satunya jalur menuju puncak dari sisi jalur pendakian kami...jalur yang mempunyai lebar jalan sekitar 1 meter dan sisi kanan kiri kami merupakan lembahan curam, belum lagi angin yang cukup kencang, vegetasi yang hanya cantigi, batuan dan pasir..dan sesekali terlihat lempengan logam penanda nisan pendaki yang tewas di jalur itu dengan berbagai alasan dan cerita..adalah alasan jalur itu dinamakan Jembatan Setan..memang cukup mengerikan..
yang menarik saat itu di Jembatan Setan adalah pemandangan alam yang sangat kontras antara lembahan sisi kanan dan sisi kiri. di satu sisi tampak rerumputan menghijau sedangkan sisi lainnya tampak kering gersang habis terbakar..dari jalur ini tampak 2 puncak tertinggi Merbabu, yaitu Puncak Syarif dan Kenteng Songo.
sayangnya, saat itu saya belum bisa melihat sudut pandang fotografi yang menarik untuk diabadikan..banyak yang terlewat..explorasi foto di Merbabu masih menjadi PR yang belum pernah terselesaikan.
trak terakhir kami menuju puncak Kenteng Songo adalah menyusuri dinding tebing, walaupun tidak jauh tapi cukup berbahaya..
dan sampailah kami di puncak Merbabu..
sayangnya tidak ada dokumentasi foto saat di Puncak Kenteng Songo, karena alasan teknis kamera yang seharga Rp.5000 itu akhirnya rusak tepat saat akan digunakan di puncak itu.
Kenteng Songo merupakan situs berupa 9 buah batu tersusun menurut kepercayaan masyarakat sekitar. yang sangat membuat kami penasaran adalah bahwa jumlah batu yang kami temukan tidak sampai 9 buah. menurut kepercayaan masyarakat pula bahwa siapapun yang dapat melihat batu 9 buah maka akan mendapat peruntungan.
untuk saya, sudah bisa sampai di puncak juga merupakan keberuntungan untuk bisa menikmati keindahan..
terlalu Maghrib untuk menuju jalur Selo yang panjang landai..akhirnya diputuskan menuju jalur Wekas dan kami tempuh perjalanan malam dengan berbekal penerangan sinar bulan. bukan karena senter tidak berfungsi, tapi masih sangat saya ingat, malam itu sangat terang oleh rembulan..
padahal jalur Selo yang awalnya menjadi tujuan akhir pendakian mempunyai pesona yang menakjubkan, kabarnya di jalur landai itu kami disuguhi oleh indahnya hamparan Edelweiss, si bunga abadi.
tiba di Wekas sangat larut, dini hari..setelah berbenah dan membersihkan diri, kami lelap dalam lelah dan lega.
sebuah tempat singgah para pendaki yang sangat nyaman dan cukup hangat.
pagi itu, kami bergegas mengejar kereta api sore yang membawa kami kembali ke bandung. malam harinya kami tiba di stasiun Rancaekek dan menuju Jatinangor.
still, wishing for another chance to reach Merbabu..
jalur selo
jalur Kopeng
jalur Wekas
bukan yang kuharapkan tapi atas dasar ajakan dan keharusan..
perjalanan yang belum sepenuhnya kuinginkan besama tim Merbabu.
Menuju Merbabu, Jawa Tengah...tepatnya puncak gunung Merbabu.
Berbekal kamera pocket sederhana dari plastik dan harus dikokang manual, seharga Rp.5000 yang dibelikan oleh bapa saya sewaktu ada ajang Braga Festival (jaman SMA antara 1998-2001, sudah terlalu lama)..
Berangkat bersama tim Lawu dari stasiun Kiaracondong sekitar pukul 22 WIB dan tiba di Solo sekitar pukul 7 esok harinya...dan di stasiun Jebres kami berpisah..
![]() |
| senja di perjalanan pendakian Merbabu |
sudah terlalu siang bahkan terlalu sore saat kami memulai pendakian setelah masak dan makan siang.
sampai akhirnya kami tersesat dan kemudian bermalam di tengah-tengah perjalanan.
![]() |
| haha hihi di jalur pendakian Merbabu walaupun tersesat. |
![]() |
| Git dan Na |
sarapan pagi dengan bubur kacang hijau yang masih keras karena pengolahan yang salah..
pagi yang cerah mengiringi perjalanan, mungkin sedikit mengeluh..hari itu terlalu cerah..
![]() |
| kondisi vegetasi yang kering menuju puncak Merbabu |
saya belum pernah melakukan pendakian, apalagi dengan kondisi air yang sangat terbatas. beban tas yang berat dan terik surya yang menggoda untuk melepas dahaga dengan tegukan air dari botol minum.
![]() |
| bertemu tim pendaki lain dari Jawa Tengah |
tujuan kami adalah menuju ke atas, berharap menemukan puncakan agar mdah mengetahui keberadaan kami.sampailah kami di puncakan yang ternyata merupakan shelter ke-4, Heli pad...
tampak megah barisan puncakan Merbabu di belakang latar Jembatan Setan, yang memukau kami dengan pandangan luas tak berbatas tak terhalang ...langsung, panas menerpa karena vegetasi tumbuhan semakin berkurang..dataran tinggi yang kering, menggambarkan karakteristik tipe gunung di kawasan Jawa Tengah.
makan siang dalam bivak ponco untuk menghalau terik surya, dan pasokan air yang semakin menipis memaksa kami mencari sumber air..ada sumber air..tapi mengandung belerang, sedikit berasa asam sampai-sampai teh manis berasa seperti lemon tea.
menjelang Ashar, setapak demi setapak menyusuri jalur Jembatan Setan..satu-satunya jalur menuju puncak dari sisi jalur pendakian kami...jalur yang mempunyai lebar jalan sekitar 1 meter dan sisi kanan kiri kami merupakan lembahan curam, belum lagi angin yang cukup kencang, vegetasi yang hanya cantigi, batuan dan pasir..dan sesekali terlihat lempengan logam penanda nisan pendaki yang tewas di jalur itu dengan berbagai alasan dan cerita..adalah alasan jalur itu dinamakan Jembatan Setan..memang cukup mengerikan..
yang menarik saat itu di Jembatan Setan adalah pemandangan alam yang sangat kontras antara lembahan sisi kanan dan sisi kiri. di satu sisi tampak rerumputan menghijau sedangkan sisi lainnya tampak kering gersang habis terbakar..dari jalur ini tampak 2 puncak tertinggi Merbabu, yaitu Puncak Syarif dan Kenteng Songo.
sayangnya, saat itu saya belum bisa melihat sudut pandang fotografi yang menarik untuk diabadikan..banyak yang terlewat..explorasi foto di Merbabu masih menjadi PR yang belum pernah terselesaikan.
![]() |
| foto ini belum di puncak Kenteng Songo |
trak terakhir kami menuju puncak Kenteng Songo adalah menyusuri dinding tebing, walaupun tidak jauh tapi cukup berbahaya..
dan sampailah kami di puncak Merbabu..
sayangnya tidak ada dokumentasi foto saat di Puncak Kenteng Songo, karena alasan teknis kamera yang seharga Rp.5000 itu akhirnya rusak tepat saat akan digunakan di puncak itu.
Kenteng Songo merupakan situs berupa 9 buah batu tersusun menurut kepercayaan masyarakat sekitar. yang sangat membuat kami penasaran adalah bahwa jumlah batu yang kami temukan tidak sampai 9 buah. menurut kepercayaan masyarakat pula bahwa siapapun yang dapat melihat batu 9 buah maka akan mendapat peruntungan.
untuk saya, sudah bisa sampai di puncak juga merupakan keberuntungan untuk bisa menikmati keindahan..
terlalu Maghrib untuk menuju jalur Selo yang panjang landai..akhirnya diputuskan menuju jalur Wekas dan kami tempuh perjalanan malam dengan berbekal penerangan sinar bulan. bukan karena senter tidak berfungsi, tapi masih sangat saya ingat, malam itu sangat terang oleh rembulan..
padahal jalur Selo yang awalnya menjadi tujuan akhir pendakian mempunyai pesona yang menakjubkan, kabarnya di jalur landai itu kami disuguhi oleh indahnya hamparan Edelweiss, si bunga abadi.
tiba di Wekas sangat larut, dini hari..setelah berbenah dan membersihkan diri, kami lelap dalam lelah dan lega.
sebuah tempat singgah para pendaki yang sangat nyaman dan cukup hangat.
pagi itu, kami bergegas mengejar kereta api sore yang membawa kami kembali ke bandung. malam harinya kami tiba di stasiun Rancaekek dan menuju Jatinangor.
still, wishing for another chance to reach Merbabu..
jalur selo
jalur Kopeng
jalur Wekas
Langganan:
Postingan (Atom)




















